
Dunia Sedang Mengalami Rebalancing Ekonomi
Dalam dua dekade terakhir, pusat gravitasi ekonomi global perlahan bergeser ke Asia.
Data IMF menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen pertumbuhan ekonomi dunia kini berasal dari kawasan Asia. Sementara itu, Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar bagi lebih dari 120 negara, termasuk Indonesia.
Perubahan ini menciptakan realitas baru.
Arus perdagangan semakin besar terjadi di dalam kawasan Asia sendiri. Namun di sisi lain, sebagian besar transaksi masih bergantung pada sistem pembayaran dan mata uang yang dirancang untuk lanskap ekonomi global puluhan tahun lalu.
Akibatnya, banyak negara menghadapi biaya transaksi tambahan, risiko nilai tukar yang lebih besar, dan ketergantungan yang tinggi terhadap likuiditas eksternal.
Dalam konteks inilah semakin banyak negara mulai memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi.
Indonesia tidak sedang menciptakan tren baru. Indonesia sedang beradaptasi terhadap perubahan yang memang sedang terjadi di tingkat global.
Membaca Shanghai sebagai Strategi, Bukan Seremoni
Kesepakatan yang ditandatangani Bank Indonesia dan People's Bank of China mencakup beberapa instrumen penting.
Pertama, pembaruan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) yang memberikan akses likuiditas tambahan bagi kedua bank sentral.
Kedua, perluasan Local Currency Transaction (LCT) yang memungkinkan transaksi menggunakan rupiah dan renminbi dilakukan secara lebih luas.
Ketiga, penguatan mekanisme kliring renminbi dan integrasi sistem pembayaran lintas negara.
Jika dilihat secara terpisah, masing-masing instrumen terlihat teknis.
Namun jika dilihat sebagai satu paket kebijakan, terdapat tujuan yang jelas: memperluas kapasitas Indonesia dalam mengelola risiko ekonomi global.
Dalam ekonomi modern, kemampuan mengelola risiko sering kali sama pentingnya dengan kemampuan menciptakan pertumbuhan.
Tiongkok Adalah Mitra Dagang Terbesar Indonesia
Salah satu alasan mengapa kerja sama ini relevan adalah struktur perdagangan Indonesia sendiri.
Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia–Tiongkok mencapai sekitar 154,5 miliar dolar AS. Angka ini menjadikan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.
Dengan volume perdagangan sebesar itu, efisiensi transaksi menjadi faktor yang sangat penting.
Selama ini sebagian besar transaksi perdagangan dilakukan menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara.
Artinya, perusahaan Indonesia yang melakukan transaksi dengan perusahaan Tiongkok harus menghadapi biaya konversi ganda serta risiko tambahan akibat fluktuasi kurs dolar.
Penggunaan rupiah dan renminbi secara langsung tidak akan menghilangkan seluruh risiko.
Namun langkah tersebut dapat mengurangi biaya transaksi, meningkatkan efisiensi, dan memperluas fleksibilitas bagi pelaku usaha.
Dalam jangka panjang, keuntungan semacam ini akan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Ketahanan Ekonomi Menjadi Prioritas Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ketahanan nasional semakin sering digunakan dalam diskursus kebijakan publik Indonesia.
Namun ketahanan nasional saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kekuatan militer atau keamanan.
Ketahanan ekonomi menjadi salah satu pilar yang sama pentingnya.
Presiden Prabowo Subianto sejak awal pemerintahannya menempatkan ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, dan penguatan kapasitas produksi nasional sebagai prioritas strategis.
Tujuannya sederhana: mengurangi kerentanan Indonesia terhadap faktor-faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan.
Dalam kerangka tersebut, langkah Bank Indonesia di Shanghai dapat dilihat sebagai bagian dari agenda yang sama.
Jika pemerintah memperkuat sektor riil melalui industrialisasi dan swasembada pangan, maka Bank Indonesia memperkuat sektor keuangan melalui diversifikasi instrumen transaksi dan perluasan akses likuiditas internasional.
Keduanya saling melengkapi.
Dari Ketergantungan Menuju Diversifikasi
Salah satu kesalahan umum dalam membaca kebijakan ini adalah menganggap Indonesia sedang berupaya meninggalkan dolar AS.
Faktanya tidak demikian.
Dolar masih menjadi mata uang utama dunia dan akan tetap memainkan peran sentral dalam perdagangan internasional dalam waktu yang panjang.
Yang sedang dilakukan Indonesia adalah diversifikasi.
Dalam teori ekonomi dan manajemen risiko, diversifikasi merupakan prinsip yang sangat mendasar.
Semakin banyak opsi yang dimiliki, semakin kecil risiko ketika salah satu opsi menghadapi tekanan.
Negara yang hanya bergantung pada satu sumber energi akan rentan.
Negara yang hanya bergantung pada satu pasar ekspor akan rentan.
Demikian pula negara yang hanya mengandalkan satu jalur transaksi keuangan akan menghadapi risiko yang lebih besar ketika terjadi gejolak global.
Karena itu, diversifikasi transaksi internasional harus dipahami sebagai bentuk kehati-hatian strategis.
Menghubungkan Kebijakan Makro dengan Ekonomi Riil
Salah satu aspek menarik dari kerja sama terbaru ini adalah penguatan konektivitas sistem pembayaran, termasuk perluasan interoperabilitas pembayaran lintas negara.
Bagi masyarakat umum, manfaat ini mungkin lebih mudah dirasakan dibanding mekanisme currency swap.
Pelaku UMKM yang melakukan transaksi lintas negara memperoleh akses pembayaran yang lebih mudah.
Wisatawan dapat bertransaksi dengan lebih efisien.
Sektor ekonomi digital memperoleh dukungan infrastruktur yang semakin kuat.
Artinya, manfaat kerja sama ini tidak berhenti di ruang rapat bank sentral, tetapi berpotensi mengalir hingga ke tingkat ekonomi rakyat.
Fondasi untuk Menghadapi Dekade Mendatang
Kebijakan ekonomi yang baik sering kali tidak menghasilkan perubahan spektakuler dalam satu malam.
Namun kebijakan yang baik membangun fondasi.
Dan fondasi adalah sesuatu yang baru terlihat nilainya ketika tekanan datang.
Pembaruan currency swap.
Perluasan transaksi mata uang lokal.
Penguatan sistem pembayaran.
Diversifikasi sumber likuiditas.
Semua langkah tersebut mungkin terlihat teknis hari ini. Namun dalam dunia yang semakin tidak pasti, instrumen-instrumen tersebut dapat menjadi penopang penting bagi stabilitas ekonomi nasional.
Kesimpulan
Kesepakatan antara Bank Indonesia dan People's Bank of China di Shanghai menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengambil langkah yang lebih strategis dalam menghadapi perubahan ekonomi global. Alih-alih sekadar merespons gejolak pasar, Indonesia mulai membangun instrumen yang memperkuat daya tahan ekonominya dalam jangka panjang.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, agenda ketahanan nasional semakin terlihat dalam berbagai sektor, mulai dari pangan, energi, industri, hingga keuangan. Kerja sama BI–PBOC menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memastikan bahwa Indonesia memiliki fondasi yang cukup kuat menghadapi dunia yang semakin kompleks dan kompetitif.
Pada akhirnya, kekuatan ekonomi sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya pertumbuhan hari ini, tetapi juga oleh kemampuannya bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan esok hari. Dan dari Shanghai, Indonesia sedang menunjukkan bahwa fondasi untuk masa depan itu tengah dibangun dengan semakin matang dan terukur.
.png)












