Wibicara
2 min read836

Kontraksi PMI Manufaktur Berlanjut pada Juni 2026, Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Industri

JAKARTA – Aktivitas industri manufaktur Indonesia kembali menunjukkan perlambatan pada Juni 2026. Berdasarkan survei yang dirilis S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat 46,9, turun dari 50,0 pada Mei 2026. Posisi tersebut menandakan sektor manufaktur kembali berada di wilayah kontraksi setelah mengalami pelemahan permintaan dan peningkatan tekanan biaya.

O

OP Admin

Published in Wibicara

Loading...
Kontraksi PMI Manufaktur Berlanjut pada Juni 2026, Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Industri

Laporan tersebut mencatat bahwa penurunan pesanan dari pasar domestik maupun ekspor menjadi penyebab utama melemahnya aktivitas industri. Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi kenaikan biaya produksi akibat meningkatnya harga bahan baku serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Untuk membantu menjaga daya saing industri, Kementerian Perindustrian berharap implementasi kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) dapat memberikan efisiensi bagi pelaku usaha.

PMI Manufaktur Indonesia Turun Menjadi 46,9

Hasil survei S&P Global menunjukkan PMI manufaktur Indonesia berada di angka 46,9 pada Juni 2026. Nilai tersebut lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 50,0.

Dalam indikator PMI, angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur mengalami kontraksi. Penurunan ini mencerminkan melambatnya kegiatan produksi, berkurangnya pesanan baru, dan melemahnya aktivitas bisnis di sektor manufaktur.

Permintaan Domestik dan Ekspor Sama-sama Melemah

Perlambatan sektor manufaktur dipengaruhi oleh turunnya permintaan dari pasar dalam negeri maupun luar negeri.

Pesanan baru dari pelanggan domestik mengalami penurunan, sementara permintaan ekspor juga melemah akibat kondisi ekonomi global yang masih belum stabil. Dampaknya, sejumlah perusahaan mengurangi tingkat produksi dan aktivitas pembelian bahan baku.

Kenaikan Harga Bahan Baku dan Pelemahan Rupiah Tingkatkan Beban Produksi

Pelaku industri juga menghadapi tantangan dari sisi biaya operasional.

Naiknya harga bahan baku di pasar internasional serta pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan biaya input meningkat. Tekanan tersebut membuat perusahaan harus menjaga efisiensi agar tetap mampu mempertahankan aktivitas produksi dan daya saing produk.

HGBT Diharapkan Menjadi Penopang Pemulihan Industri

Kementerian Perindustrian menyatakan pemerintah terus mendorong berbagai kebijakan untuk memperkuat sektor manufaktur nasional.

Salah satu kebijakan yang diharapkan memberikan dampak positif adalah optimalisasi program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Melalui kebijakan tersebut, industri diharapkan memperoleh pasokan gas dengan harga yang lebih kompetitif sehingga biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas meningkat.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus menjaga iklim investasi, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta menciptakan berbagai kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri manufaktur dalam jangka panjang.

Login to react

Comments (0)

Please log in to leave a comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

Related Articles